gilabalap.com – Pembalap Indonesia kembali mengirimkan talenta terbaiknya untuk berjuang di panggung internasional. Kali ini giliran Mohamad Altaf Thalib yang membawa Merah Putih tampil pada ajang bergengsi FIA Karting Academy Trophy Round 1 yang berlangsung di Sirkuit Genk, Belgia, pada 21–24 Mei 2026.
Altaf turun di kelas Academy Junior dan menjadi satu-satunya wakil Indonesia di antara total 54 pembalap dari berbagai negara. Bukan tugas mudah. FIA Karting Academy Trophy dikenal sebagai salah satu kejuaraan paling kompetitif karena menggunakan format one make race, di mana seluruh pembalap memakai paket mesin dan spesifikasi yang sama. Artinya, tak ada cerita soal keunggulan perangkat — yang berbicara murni kemampuan pembalap di lintasan.

Menggunakan nomor start 536, perjuangan Altaf ternyata dimulai dengan ujian yang tidak ringan. Pada sesi practice, dirinya harus puas berada di posisi ke-46. Hasil itu membuatnya masuk Grup B untuk melanjutkan rangkaian kualifikasi heat.
Namun siapa sangka, justru dari posisi belakang Altaf mulai menunjukkan mental petarungnya.
Pada heat pertama yang mempertemukan Grup B dan C, Altaf memulai balapan dari posisi ke-23. Perlahan tapi pasti, satu per satu lawan dilewati hingga akhirnya finis di posisi ke-12.

Belum berhenti di situ. Heat kedua Grup A-B kembali memperlihatkan aksi agresif Altaf. Start dari posisi ke-24, ia kembali melakukan banyak overtake dan menyelesaikan lomba di posisi ke-13.
Lalu pada heat ketiga Grup B-D, skenario serupa kembali terjadi. Memulai balapan dari posisi ke-23, Altaf sukses menutup race di posisi ke-14.
Performa konsisten itu membuat pembalap muda Indonesia ini mendapat predikat tak resmi sebagai salah satu pembalap paling rajin menyalip sepanjang sesi heat.

“Alhamdulillah saat heat 1 dapat Most Movers dengan naik 11 posisi. Di heat 2 juga berhasil ambil 10 posisi, dan di final heat naik 9 posisi. Jadi walaupun QTT di posisi 46, karena tiap heat bisa naik maksimal sekitar 10 posisi, alhamdulillah bisa masuk final. Dan kenapa QTT di belakang karena aku pakai sasis bengkok hasil ditabrak,” ungkap Altaf.
Ya, fakta menariknya, perjuangan Altaf ternyata semakin berat karena masalah teknis. Sasis yang bengkok akibat insiden sebelumnya membuat performanya terganggu sejak awal dan mempengaruhi hasil kualifikasi.

Meski begitu, kerja kerasnya selama sesi heat berbuah manis. Hasil akumulasi menempatkan Altaf di posisi ke-26 overall dan memastikan tiket menuju babak final. Dari total 54 peserta, hanya 36 pembalap terbaik yang berhak melaju.
Sayangnya, drama kembali datang saat final berlangsung.
Harapan Altaf untuk menuntaskan balapan harus berakhir lebih cepat setelah dirinya terlibat insiden dengan pembalap Kenya, Bwana Gessese. Benturan tersebut membuat Altaf tidak dapat melanjutkan balapan dengan 17 lap masih tersisa. Sementara pembalap yang terlibat insiden dengannya harus menerima sanksi diskualifikasi.

Meski gagal melihat bendera finis, Altaf tetap menunjukkan sikap dewasa dan mental luar biasa.
“Seru banget dan happy. Sempat frustrasi dan putus asa karena sasis bengkok di FP menyebabkan qualification di posisi 46 overall dan selalu paling belakang di setiap heat,” ujarnya.
Alih-alih kecewa, Altaf justru menikmati perjuangannya dari barisan belakang.
“Saya senang berada di posisi belakang karena di setiap heat bisa overtake untuk akhirnya berada di posisi ke-26 dari 54 pembalap. Ini pengalaman menyenangkan dan saya selalu positif melihat segala insiden dan masalah,” tutup Altaf.

Meski hasil akhir belum sesuai harapan, penampilan Altaf di Genk menjadi bukti bahwa mental pantang menyerah dan kemampuan racecraft pembalap Indonesia patut diperhitungkan. Dari sasis bengkok, start belakang, hingga menembus final — cerita Altaf di Belgia bukan soal hasil semata, tapi tentang bagaimana seorang pembalap bertarung sampai lap terakhir. (Fajar Eko)
