gilabalap.com – Ketua Umum PP Ikatan Motor Indonesia (IMI) Sadikin Aksa menjelaskan pembinaan dan pengembangan jenjang pembalap roda dua tanah air memang masih menjadi pekerjaan rumah PP IMI yang saat ini berada dibawah komandonya. Menurut Ikin, sapaan akrab Sadikin Aksa, sulitnya jenjang rider tanah air ke level yang lebih tinggi dikarenakan beberapa faktor.
Tidak bisa dipungkiri event balap motor di Indonesia jauh lebih banyak dibandingkan kejuaraan balap cabang roda empat, namun sayangnya kancah balap motor di Indonesia adalah kategori level terbawah.
Baca juga: Tahun 2017, Untuk Pertama Kalinya Balap Supermoto Berstatus Kejurnas
“70 persen event di kita itu event balap motor. Tapi balapan kita itu paling bawah alias underbone atau menggunakan motor bebek. Untuk lebih mudah ke stage berikutnya kan seharusnya lebih diperbanyak balapan motor sport,” ujar Ikin.
Adapun kendala lain adalah, tingginya jumlah pembalap motor di Indonesia tidak diimbangi dengan infrastruktur yang memadai.
“Untuk nextnya kendala kita infrastrukur kita hanya punya Sentul, dengan pembalap yang sangat banyak sedangkan sirkuit kita hanya punya Sentul itu sangat sulit. Karena itu kita mendatangkan pencari bakat dari Eropa untuk membuka jalan agar pembalap kita bisa beraksi di luar negeri,” lanjut Ikin.
Bukan tanpa alasan, menurut Ikin jika membangun sirkuit baru yang sesuai standar FIM ataupun FIA tentu akan butuh waktu yang lumayan lama sehingga ia tidak bisa berharap pada pembangunan sirkuit. Hal ini yang membuat PP IMI memilih untuk memfasilitasi dan membantu pembalap lokal untuk bisa dilirik tampil di luar negeri.
“Kalau bikin sirkuit baru butuh waktu 2-3 tahun. Lebih bagus kita kirim mereka ke luar karena disini sulit akibat masalah infrastruktur. Kami (PP IMI) memang tidak punya budget untuk membantu mereka karena kami hanya badan regulasi jadi kami maksimalkan koneksi IMI untuk membantu pembalap-pembalap roda 2 kita,” beber Ikin.
