gilabalap.com — Era baru time rally Indonesia mulai kelihatan arahnya. Nggak lagi terpaku dengan format lama, Komisi Time Rally IMI Pusat langsung bikin langkah progresif lewat program bertajuk “Time Rally Goes to Digital”. Di bawah komando legenda otomotif Poedio Bintoro, gebrakan ini jadi sinyal kuat bahwa time rally nasional siap naik level.
Berkolaborasi dengan Asosiasi Time Rally Indonesia (ATRI), program ini akan diawali dengan latihan bersama pada 25 April 2026. Bukan sekadar latber biasa, ini adalah tahap awal menuju transformasi besar—mengarah ke format kompetisi yang lebih modern, efisien, dan selaras dengan standar internasional.
Mas Bin—sapaan akrab Poedio Bintoro—menjelaskan arah perubahan ini dengan sangat jelas.
“Format baru ini akan menjadi salah satu alternatif untuk menggantikan format time rally di Indonesia yang konservatif, sebagaimana yang diterapkan pada Kejuaraan Dunia FIA EcoRally, sehingga target atlit dari jenjang Kejuaraan Nasional dapat ditingkatkan ke Kejuaraan Dunia dan juga dengan format baru ini diharapkan nantinya akan menambah jumlah peserta dari Kejurnas sekaligus menekan biaya operasional penyelenggaran Kejurnas Time Rally,” ungkapnya.
Latihan bersama ini rencananya akan mengambil start dan finish di kawasan Marketing Gallery Asya, Jakarta Garden City, Jakarta Timur. Event akan berlangsung mulai pukul 09.00 hingga 14.00 WIB dengan total jarak tempuh sekitar 60 km—cukup untuk menguji langsung implementasi format baru di lapangan.
Dukungan penuh datang dari IMI Pusat. Direktur On Road Mobil Olahraga IMI Pusat, Anthony Sarwono, memberikan apresiasi tinggi terhadap inisiatif ini.
“…memperkenalkan dan mensosialisasikan konsep eco rally disini, kalo tidak sekarang kapan lagi,” ujarnya, sekaligus berharap ke depan atlet Indonesia bisa menembus kejuaraan internasional karena roadbook merupakan bahasa universal di dunia reli.
Antusiasme peserta pun langsung meledak. Kuota yang dibatasi hanya 30 peserta ternyata diserbu dari berbagai daerah, bahkan lintas negara. Hal ini diungkapkan oleh Bengky Marpaung dari ATRI.
“Target Peserta akan dibatasi sampai 30 peserta saja dalam latihan ini, dan yang tidak disangka animo peserta sangat tinggi terbukti tidak hanya dari atlit dan anggota Komisi dari DKI saja tetapi juga atlit dari Jawa Timur dan Yogyakarta bahkan peserta terjauh dari New Zealand atas nama Roesnoman Baboe juga turut hadir dalam pelatihan ini,” jelasnya.

Beberapa personil Komisi Time Rally IMI Pusat, ki-ka : Ipat, Mas Bin, Bambang Feriyanto & Danu
Dalam format barunya, peserta akan menggunakan sistem roadbook dengan panduan Tulip Diagram—simbol navigasi standar yang dipakai di berbagai ajang reli dunia, mulai dari time rally, speed rally hingga rally raid. Sistem ini memungkinkan semua pereli memahami instruksi tanpa hambatan bahasa.
Nggak cuma itu, sentuhan digital juga jadi highlight utama. Mulai dari penggunaan alat tracking seperti Transtrack dan Vrally Tracker, hingga aplikasi pembuatan soal dari Mari Rally, semua diarahkan untuk menciptakan sistem yang lebih otomatis dan terintegrasi.
Ketua Pelaksana kegiatan, Bambang Feriyanto, menegaskan bahwa latber ini adalah proses belajar bersama.
“Namanya juga Latihan Bersama jadi dari panitia hingga peserta belajar bersama, kami harus mendapat masukan dalam mencoba format baru ini sehingga nantinya dapat diterapkan menjadi peraturan yang pas untuk kejuaraan nasional nya, dan dalam latber ini juga kami akan mempraktekan penggunaan alat tracking (Digitalisasi) dari Transtrack, Vrally Tracker dan aplikasi pembuatan soal dari Mari Rally untuk mendukung jalannya kegiatan time rally secara otomatis dari pembuatan soal, proses pendaftaran sampai hasil kejuaraan, terima kasih atas dukungan sponsor Royal Nata Nusantara Foundation dan donatur serta peserta yang telah membantu dan bergabung di latihan bersama ini,” tutupnya.
Langkah ini jadi bukti bahwa time rally Indonesia nggak mau jalan di tempat. Dengan inovasi dan semangat baru, bukan nggak mungkin ke depan Merah Putih bisa lebih sering berkibar di ajang internasional. Bravo Komisi Time Rally—gas terus. (Fajar Eko)
